Beranda > Mata Kuliah > Cerpen : Pedagang Cilik

Cerpen : Pedagang Cilik

PEDAGANG CILIK

Pedagang cilik yang bersuara tinggi itu bernama Sumardi. Alunan suaranya terdengar menembus lorong-lorong perkampungan yang dilewatinya. tetapi, suara itu hanya muncul setiap hari Minggu dan hari-hari libur lainnya. Barang dagangan yang dibawa oleh Sumardi adalah alat-alat perlengkapan rumah tangga yang hamper setiap hari dibutuhkan oleh setiap Ibu rumah tangga.

Sumardi menjajakan sapi, keset, dan kemoceng. Ia hanya menjajakan dagangannya setiap hari libur karena pada hari-hari biasa ia harus bersekolah. Semenjak duduk di bangu kelas III SD, Sumardi harus mencari biaya sendiri untuk melanjutkan pendidikannya. Kedua orang tuanya yang juga berjualan sapi, keset, dan perlengkapan lain sudak tidak mampu lagi membiayai sekolah.

Dapat kalian bayangkan, betapa sedih hati sumardi kecil, bukan? Hasratnya untuk mengikuti pendidikan masih menggebu-gebu, sedangkan biaya untuk menopang keinginannya sudah tidak ada lagi. Namun, tekad Sumardi untuk tetap bersekolah tak pernah padam. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mencari biaya sendiri, jadilah ia penjaja alat-alat perlengkapan rumah tangga seperti ayahnya.

Jika hari Minggu atau hari-hari libur tiba, pukul enam pagi Sumardi sudah meninggalkan rumahnya. Ia keluar masuk perkampungan sambil mengalunkan suaranya yang khas kekanak-kanakan, “Pu … sapu . .. pu … sapu … set … keset … set … keset … “

Sumardi tak kenal lelah. Ia tak peduli tubuhnya disengat matahari dan diguyur air hujan. Sambil berdoa ia terus menjajakan dagangannya masuk kampong keluar kampong.

Berkat ketabahannya, Sumardi kini telah berhasil duduk di kelas dua SMP. Hasil yang ia peroleh kadang-kadang banyak dan kadang-kadang sedikit,

“Kalau sedang mujur, saya bisa memperoleh keuntungan lebih dari dua puluh ribu rupiah sehari, Pak,” tutur Sumardi. “Paling apes membawa keuntungan lima ratus rupiah.”

Semua haril yang diperoleh digunakan untuk membeli buku dan membayar SPP, dan seragam sekolah, demikian cerita sumardi ketika diwawancarai. Selain untuk membiayai sekolah, setiap hari raya tiba Sumardi mampu pula membelikan baju buat adik-adiknya.

Sumardi tidak merasa malu walau ia dikenal teman-temannya sebagai pedagang sapu. “Justru saya merasa mempunyai kebanggaan, Pak. Saya dapat membiayai sekolah sendiri tanpa bantuan orang tua,” tutur Sumardi, “Teman-teman lain masaih tergantung kepada orang tua mereka.”

Menurut keterangan Sumardi, pendidikan yang kini ia tempuh akan tetap dilanjutkan. “Jika saya tidak membekali diri dengan kepandaian hidup, keluarga kami akan tetap miskin dan menderita, Pak.” kata Sumardi mengakhiri pembicaraannya.

Suaranya kembali terdengar mengalun, “Pu . . . sapuuuu . . . Set . . . Keseett . . .  ”

http://www.gunadarma.ac.id

Fahmi Raditio

Kategori:Mata Kuliah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: